Cara Menentukan Hs Code Impor

Klasifikasi HS bukanlah merupakan ilmu eksak atau ilmu pasti. Barang yang diklasifikasikan memang berwujud pasti, namun mengklasifikannya pada satu pos tariff tertentu sangat bergantung kepada informasi tentang barang tersebut. Tidak jarang pendapat seseorang tentang klasifikasi suatu barang terntentu berbeda dengan pendapat orang lain.

Klasifikasi barang adalah suatu daftar penggolongan barang yang dibuat secara sistematis dengan tujuan untuk mempermudah pnetarifan, transaksi perdagangan, pengangkutan dan statistic. Berdasarkan pasal 14 ayat 2 Undang-undang Kepabeanan Indonesia Nomor 10 tahun 1995, sebagaimana telah diamandemen dengan Undang-Undang Nomor 17 tahun 2006, penetapan klasifikasi barang diatur lebih lanjut oleh Menteri Keuangan.

Ketidakharmonisan klasifikasi barang menyebabkan perdangan Internasional akan mengalami hambatan karena permintaan suatu barang dari Negara pengimpor akan ditanggapi secara pengkodean atau penomoran yang berbeda oleh Negara pengekspor. Hal ini tentu tidak dikehendaki dalam dunia internasional. Untuk itulah timbul suatu pemikiran agar nomenklatur klasifikasi barang bersifat seragam di seluruh Negara di dunia.

HS adalah nomenklatur yang terdiri dari 21 bagian, 96 Bab(+ Bab 77), dan 5.205 subpos. Hs yang tersusun dari pos dan sub-pos, bersama dengan Ketentuan Umum Menginterpretasi, Catatan Bagian, Catatan Bab, dan Catatan Sub-Pos, merupakan pedoman mengklasifikasi barang sistemik dan seragam. Sistem penomoran HS terbagi menjadi Bab(2 digit pertama), pos(4 digit pertama), dan subpos(6 digit pertama) dengan penjelasan sebagai berikut:

Hs Code Tempe Kedelai: 2106.90.99.00

Dua digit pertama untuk menunjukkan pada bab mana barang itu diklasifikasikan. Pada contoh diatas, barang dimaksud diklasifikasikan pada bab 21.

Empat angka pertama menunjukkan Pos atau Heading dalam setiap bab. Pada contoh diatas, barang dimaksud diklasifikasikan pada pos 2106.

Enam angka pertama menunjukkan Subpos dalam setiap pos. Pada contoh diatas, barang dimaksud diklasifikasikan pada subpos 2106.90

Digit ke 7 dan 8 merupakan pengkodean barang yang disetujui untuk Negara-negara Asean.

Digit ke 9 dan 10 adalah kode khusus untuk barang-barang yang ada di Indonesia.

Untuk menetapkan suatu HS, Indonesia berpedoman pada BTKI 2012. BTKI adalah buku tarif bea masuk dan bea keluar yang digunakan di Indonesia sejak 2012. BTKI berisikan pengkodean HS yang digunakan dalam pentarifan dan penanganan barang impor ke Indonesia.

Lalu, langkah apa yang harus dilakukan untuk dapat mengklasifikasi suatu barang dengan benar? Biasanya klasifikasi tersebut dilakukan dengan mencari langsung pos tarif yang dianggap sesuai. Cara seperti ini tidak akurat dan sering menyebabkan terjadinya kesalahan klasifikasi yang mengakibatkan tambah bayar.

Berikut ini penjelasan singkat langkah-langkah praktis dalam mengklasifikasi barang. Namun sekali lagi perlu diingat, klasifikasi yang benar hanya dapat dilakukan dengan memahami aturan-aturan mengklasifikasi berdasarkan pedoman BTKI dan KUM HS.

  1. Menentukan HS Dengan Langkah Identifikasi
  2. Tahapan Klasifikasi Barang Menggunakan BTKI
  3. Membuat Nota Penelitian Klasifikasi Barang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s