BMTP Impor Baja Menunggu Perpanjangan Mendag

JAKARTA — Perpanjangan beleid bea masuk tindakan pengamanan untuk produk impor canai lantaian dari besi atau baja bukan paduan yang akan habis pada Juli 2017 tinggal menunggu persetujuan Menteri Perdagangan.

Ketua Komite Pengamanan Perdagangan Indonesia (KPPI) Ernawati menyatakan pihaknya telah menyelesaikan laporan terkait penerapan bea masuk tindakan pengamanan (BMTP) terhadap produk tersebut.

“Rekomendasi dari KPPI adalah BMTP diperpanjang. Tinggal menunggu keputusan dari Menteri [Perdagangan],” jelas Ernawati kepada Bisnis, Kamis (22/6).

Dia menyebut Mendag akan meminta pertimbangan dari kementerian terkait. Pasalnya, perpanjangan beleid tersebut dinilai menyangkut kepentingan nasional.

Penetapan BMTP produk impor canai lantaian dari besi atau baja bukan paduan diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) No.137.1/2014 yang disahkan pada 7 Juli 2014. Beleid tersebut hingga tiga tahun setelah diundangkan pada 15 Juli 2014.

BMTP dikenakan untuk impor produk dengan kode HS 7210.61.11.00 Jenis itu merupakan baja yang memiliki lebar 600 mm atau lebih disepuh atau dilapisi dengan paduan alumunium seng, mengandung karbon kurang dari 0,6% menurut beratnya, dan ketebalan sampai dengan 0,7 mm.

Bea masuk dikenakan secara bertahap sejak beleid tersebut diberlakukan. Pada tahun pertama BMTP yang dikenakan adalah Rp4,99 juta per ton kemudian berlanjut hingga tahun ketiga Rp3,62 juta per ton.

Direktur Pelaksana asosiasi Indonesia Zinc Aluminium Steel Industries (IZASI) Rhea Sianipar mengatakan telah mengajukan perpanjangan safeguard bagi produk baja lapis tersebut. Hal itu dilakukan untuk mendukung pertumbuhan industri di dalam negeri.

“Impor untuk produk baja dengan HS 7210.61.11.00 masih tinggi sehingga masih dibutuhkan dilakukan perpanjangan,” jelasnya.

Dia menjelaskan penyebab masih tingginya impor produk itu disebabkan oleh masuknya barang dari China. Pasalnya, saat beleid tersebut diimplementasikan China tidak termasuk ke negara yang dikenakan BMTP.

Saat itu, sambungnya, impor produk baja lapis dari China masih di bawah 3%. Namun, seiring berjalannya waktu produksi baja Negeri Panda mengalami peningkatan yang berimplikasi kepada meningkatnya ekspor mereka.

“Pengenaan BMTP hanya berlaku bagi Vietnam, Korea Selatan, dan Taiwan. Seharusnya negara yang impornya menjadi tinggi saat aturan diimplementasikan bisa masuk ke dalam daftar juga,” imbuhnya.

Dia berharap adanya dukungan dari kementerian terkait untuk memperhatikan kondisi industri baja lapis di dalam negeri. Pihaknya telah melakukan koordinasi secara intensif dengan KPPI terkait data-data yang diperlukan sebagai bahan pertimbangan perpanjangan penerapan BMTP.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat volume impor produk canai lantaian dari besi dengan HS 7210.61.11.00 sempat mengalami penurunan dari 2014 ke 2015. Total nilai yang dibukukan pada 2014 adalah sebesar 224.952 ton yang turun drastis pada tahun berikutnya menjadi 84.995 ton.

Kendati demikian, volume impor kembali mengalami kenaikan pada 2016. Total produk canai lantaian dari besi yang masuk ke Indonesia pada periode tersebut adalah 119.997 ton.

Seperti diketahui, pengenaan BMTP dimulai dari laporan dari PT NS BlueScope Indonesia dan PT Sunrise Steel, pada 2012, yang meminta penyeledikan tindakan pengamanan perdagangan atas lonjakan impor barang produk canai lantaian dari besi atau baja bukan paduan. Selain itu, harga jual komoditas itu di pasar domestik lebih rendah jika dibandingkan dengan total biaya operasional produksi Indonesia.( Nurhadi Pratomo)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s