Import Borongan: Pintu Yang Tertutup Bukan Berarti Terkunci

Awal 2017 merupakan tahun kelabu bagi Importir Borongan sejak sebelumnya Menteri Keuangan menggalakkan pemberantasan impor ilegal pada akhir tahun 2016. Penetapan status Redline yang semula hanya memerlukan waktu 2-3 minggu untuk mengeluarkan barang, hingga kini belum ada kepastian. Bahkan Bea dan Cukai tidak segan-segan mengembalikan barang yang tidak memenuhi izin ke negara asal, dan biaya pengembalian dibebankan kepada Importir.

Muncul kekhawatiran kondisi ini berimbas kepada pelaku usaha menengah ke bawah. Dimana opsi impor borongan menjadi pilihan terakhir manakala jumlah barang yang diimpor biasanya tidak lebih dari muatan kontener. Meski secara kasat mata Importir Borongan tidak bersumbangsih terhadap pajak, pada kenyataan di lapangan justru biaya yang timbul terkadang bisa lebih besar dibandingkan jalur resmi yang memiliki kelengkapan perizinan.

Penertiban impor borongan bukanlah akhir bagi pelaku usaha menengah ke bawah. Masih terdapat solusi yang bisa diandalkan mengatasi larangan impor borongan. Forwarder menyebutnya sebagai Undername. Pilihan Jasa Undername nampaknya lebih pintas yang sekedar tahu beres, karena prosesnya legal dibawah izin Importir Resmi. Lalu bagaimana dengan pajaknya, yang sejak penggalangan Tax Amnesty setiap wajib pajak diawasi ketat? Tentu baik Forwarder, PPJK, dan Importir terdaftar akan berpikir dua kali saat hendak mengelabui kalkulasi yang tidak wajar, sistem kini telah berubah.

Mungkin kabar larangan impor borongan menjadi angin segar terhadap Importir(produsen) yang mendapat fasilitas jalur hijau maupun MITA dalam memuluskan daya saing. Tidak seperti yang menimpa terhadap Importir borongan, seakan mendapat perlakuan yang  kurang adil. Namun, sudahkah para Importir borongan berpikir sedikit adil terhadap pedagang ritel di sekelilingnya yang menginginkan persaingan sehat tanpa mengandalkan produk import? Bukankah keberlangsungan suatu negeri yang mengandalkan kran impor dapat memicu terjadinya inflasi?

Pertanyaannya barangkali mengapa pemerintah terkesan memberi  kemudahan selebarnya-lebarnya terhadap perusahan besar dalam kegiatan import? Tentu karena pengawasannya lebih terukur dan mendapat audit langsung dari Bea dan Cukai, sehingga segala  kegiatan yang menyimpang dapat dengan mudah terdeteksi. Itu pun tidak serta merta perusahaan besar(produsen) dapat melakukan impor barang semaunya. Hanya bahan baku yang terbatas pasokannya di dalam negeri seperti Garmen, yang kemudian diolah secara mandiri baik untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri dan ekspor. Belum lagi kuota impor dari importir produsen juga tidak luput dibatasi agar tidak berpotensi Dumping.

Munculnya petisi kepada pemerintah merupakan bukti koreksi yang diprediksi dapat menimbulkan gejolak ekonomi. Simpang siur penyederhanaan perizinan impor jangan malah membuat pelaku impor maju mundur ditengah persaingan yang menggempur, selama yang di Import bukanlah garam dapur.

Tanpa mengabaikan nasib import borongan yang menyandera asap garam dapur di rumah, nampaknya perlu untuk mengetahui seberapa panjang air asin yang mengelilingi Indonesia. Dimana di sepanjang perairan yang dalam masih terdapat titik-titik perairan yang dangkal. Bukan sekedar dangkal, tetapi juga belum dijangkau petugas Bea dan Cukai meski program penyerapan 5000 pegawai baru per tahun belum memadai dalam memenuhi kebutuhan administrasi dan layanan publik. Apalagi untuk pengawasan di perairan.

Kebanyakan orang menyebutnya sebagai Jalur Tikus. Jalur yang memiliki kemiripan dengan Jalur Sutra karena ongkos operasionalnya lebih mahal. Pilihan yang satu ini menjadi alternatif barang yang transit dari Singapore untuk menghindari pemeriksaan Bea dan Cukai. Namun, bila Batam masih  layak dijuluki FTZ(free trade zone), alangkah ekonomisnya Importir Borongan menggunakan jalur tsb. Akan tetapi, jika kedua pilihan tadi dinilai terlalu berbelit-belit dan tidak ada kepastian estimasi tiba, maka pintu yang terkunci rapat semestinya dapat diketuk terbuka jika Importir berkoordinasi secara matang dengan buruh di lapangan dalam menyusun barang yang menyelinap pada tumpukan khusus di kontener. Seperti inilah semestinya nilai gotong-royong diterapkan dalam berbangsa dan berbisnis. Semoga bermanfaat. (Muhammad Yunus, Junior Kepabeanan)

6 thoughts on “Import Borongan: Pintu Yang Tertutup Bukan Berarti Terkunci”

  1. sekedar menambahkan dr grup peraki, beacukai sedang memata-matai forwarder!

    1. Sesama forwarder sepakat gak jalanin borongan dulu. Kalau ada, berarti dia emang ngambil resiko tinggi banget dan mempertaruhkan perusahaan dan dirinya sendiri. By sea udah fix sampai 2019 gak bisa borongan. Terakhir denger2 dr sesama forwarder, ada yg dilolosin barangnya, terus barangnya diikutin, pas nyampe tempat consignee baru OTT.

    2. Undername technically masih bs jalan, tp gak semua forwarder punya API untuk barang yang customer punya. Jadi cuma barang2 yang forwardernya punya PT import dan punya API yang spesifik.

    3. Jalur lewat BALI, SURABAYA, BATAM semakin ketat, gak bisa borongan. Kalau bisa, alasannya sama kyk nomor 1.

    4. Jalur yang paling bisa untuk masukin barang borongan itu sekarang hand carry bandara, dan lebih baik lagi kalo ada yg kawal melalui orang dalam atau kenalan2 khusus. Jangan berharap byk lagi sama borongan.

    5. Abis ngobrol2 sama BC dan beberapa kawan2, redline nasional by air ini positif bisa sampai akhir tahun 2017, bahkan bisa berlanjut lebih lama. RIP Borongan.

    6. Semakin banyak forwarder yang tutup dan rumahkan karyawannya. Dalam 2 minggu cash flow mandek. Domino effect mulai keliatan bgt di FF.

    *****

    Share complain dr teman2

    IMPORTIR RESMI
    Gw bingung, gw emang import resmi chemical resmi, pajak sama surat rapih, tapi gw perlu import beberapa alat-alat buat nampung chemical gw, sejenis tangki dan pakaian khusus gitu. masak gw minta API baru, bikin PT baru, cuma buat IMPORT tangki dan pakaian gw?? Makannya kadang gw lewat borongan jg.

    IMPORTIR RESMI
    Gw import bumbu makanan lewat borongan soalny gw udah punya PT buat restoran. MASALAHNYA, ada bumbu yang gua harus import karena ada racikan khusus dari franchisee. Sekarang kalo bumbu habis, gw hand carry ke HONG KONG ambil BUMBU.

    SELLER SEPATU ONLINE
    Barang udh stuck di gudang, terpaksa hand carry bandara. Kalo ada seller lain bs dapet barang, udh positif lewat jalur terminal bandara ( handcarry ) Bentar lagi mau tutup jualan online, cari bisnis yang lain.

    SELLER ELEKTRONIK GLODOK
    Saya stres, bner2 stress sama jkw, dagangan tinggal dikit, udah order 400jt, udah masuk di gudang, barang gak bisa keluar, duit gak muter. Anak sama istri skrg lagi hidup hemat2

  2. Hmmmm saya sepatu jg jualan masih aman sih, ga pakai suap BC sana sini

    Sempat hampir ketahan barang tapi ketemu jalan keluarnya juga

    banyakan silent reader dulu dan sempat cari info disini pas redline, walau sempat kesendat 1 minggu paling engga barang keluar semua

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s