Biaya Pasang Solar Panel Bisa Balik Modal Dalam 4 Tahun

Jakarta – Harga panel surya di Indonesia saat ini berada di kisaran US$ 1/Watt peak (Wp) atau US$ 1.000/kilowatt peak (kWp). Tiga tahun lalu, harga solar panel masih sekitar US$ 1.500/kWp, jadi sudah menurun sekitar 30% dalam 3 tahun.
Jika dikonversi dalam rupiah, harga panel surya dengan kapasitas 1 kWp sekitar Rp 13,2 juta. Ditambah biaya instalasi di atap rumah, biayanya sekitar Rp 15 juta/kWp. Untuk kebutuhan listrik rumah tangga, kira-kira perlu 1-2 kWp alias 1.000-2.000 Watt peak (Wp).
Sekarang sudah semakin banyak rumah-rumah yang memakai panel surya di atap untuk memenuhi kebutuhan listrik pada siang hari. Tapi pemakainya masih terbatas di masyarakat kelas menengah atas. Sebab, biaya yang dibutuhkan setidaknya Rp 15 juta, belum terjangkau masyarakat Indonesia pada umumnya.
Meski demikian, uang yang diinvestasikan untuk memasang panel surya bisa segera kembali dalam 4 tahun. Panel surya memberi manfaat langsung berupa penghematan tagihan listrik.
“Pasang solar panel 1 kWp biayanya sekitar Rp 15 juta. Tapi dengan listrik yang diproduksi panel surya, tagihan listrik PLN jadi turun. Kira-kira 7 tahun bisa balik modal,” kata Ketua Asosiasi Energi Surya Indonesia (AESI), Arya Rezavidi, kepada detikFinance, Jumat (15/9/2017).
Panel surya dengan kapasitas 1 kWp dapat menghasilkan listrik selama 8 jam dari pukul 08.00 sampai 16.00. Dengan intensitas sinar matahari di Jakarta, total yang dihasilkan kurang lebih 3,5 kWh. Maka konsumsi listrik dari PLN berkurang 3,5 kWh per hari atau setara dengan Rp 5.000 (tarif listrik PLN Rp 1.400/kWh). Berarti dalam sebulan, tagihan listrik berkurang Rp 150.000.
Di daerah-daerah lain yang sinar mataharinya lebih kuat, misalnya Nusa Tenggara Timur (NTT), listrik yang dihasilkan bisa sampai 4-4,5 kWh per hari.
“Kalau listrik dari panel surya dipakai 3,5 jam per hari saja, menghasilkan listrik 3,5 kWh, maka dalam sebulan jadi sekitar 100 kWh. Penghematannya adalah 100 dikali Rp 1.400/kWh (tarif listrik PLN), itu yang dihemat,” papar Ketua Asosiasi Energi Surya Indonesia (AESI), Arya Rezavidi, kepada detikFinance, Jumat (15/9/2017).

Di tahun ke-8 dan seterusnya, pemilik rumah sudah menikmati keuntungan dari panel surya. Energi dari sinar matahari tentu tak akan habis, hanya mahal di awal saja tapi selanjutnya sangat murah, dan tidak menghasilkan polusi seperti halnya energi fosil.
Arya menambahkan, harga panel surya dan baterai pembangkit listrik tenaga surya semakin murah, tren harganya ke depan makin turun. “Ke depan akan ada revolusi di kelistrikan. Dalam 2-3 tahun terakhir panel surya roof top booming di Jepang, Jerman, Australia, dan sebagainya,” tegasnya.
Sekarang diperkirakan ada 10 juta rumah di Pulau Jawa yang termasuk kelas menengah atas. Kalau sepersepuluhnya saja memasang solar panel berkapasitas 1 kWp di atap rumah, sudah ada tambahan listrik 1.000 Megawatt (MW) dari tenaga surya.
Ia optimistis panel surya bakal populer di Indonesia. Bersama pemerintah dan berbagai asosiasi lainnya, AESI membidik pemasangan panel surya di sejuta atap rumah. “Kalau 1 juta rumah saja pasang 1 kWp, berarti sudah 1.000 MW, sudah cukup besar,” tutupnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s