Tag Archives: Cargo Besi Baja Import-Domestic

Negara-negara Pemasok Besi Baja Di Indonesia


Industri besi dan baja merupakan tulang punggung negara-negara maju. Keberadaan industri baja memegang peran vital dalam proses pembangunan. Pada sektor industri, besi dan baja digunakan sebagai bahan dasar bagi industri otomotif, industri pertahanan, industri peralatan household (panci, kompor, furnitur), indusri manufaktur (tiang tegangan tinggi, jembatan), industri migas ( pipa dan konstruksi), industri kaleng, serta industri perumahan (rangka baja, atap seng).

Kebutuhan baja nasional untuk jenis crude steel, HRC, dan CRC masing-masing sebesar 5,42 juta ton; 3,33 juta ton dan 1,44 juta ton. Sementara itu produksi hanya sebesar 3,46 juta ton (crude steel), 2,82 juta ton (HRC) dan 0,92 juta ton (CRC).

Struktur industri dan pemain baja di dunia saat ini cenderung mengalami konsolidasi. Setiap negara atau pabrikan baja kini berlomba-lomba menjadikan dirinya sebagai produsen baja terbesar di dunia. Dengan menjadikan diri yang terbesar, mereka berharap dapat menggiring pasar dan menjadi price maker.

Negara yang berpotensi kuat di industri bajanya, cukup berani mengangkat pejabat setingkat menteri untuk mengelola industri-industri bajanya secara khusus. Adapun tugasnya adalah :

– Koordinasi dan perencanaan pertumbuhan dan pengembang-an industri besi dan baja di India;
– Perumusan kebijakan dalam hal produksi, harga, distribusi, impor dan ekspor besi & baja dan produk yang terkait,
– Pengembangan industri hulu terkait penyediaan bijih besi, bijih mangan, bijih krom dan sebagainya, yang dibutuhkan terutama oleh industri baja.

Kalau boleh kita lihat ke belakang / sejarah. Hampir sebagian besar konstruksi megah peninggalan Belanda adalah konstruksi baja, contohnya :

– Hampir semua Fasilitas Perkereta apian buatan Belanda adalah Steel Strc. ( jembatan lintas Jakarta – Bandung; Karawang dll. ) dan masih bertahan lebih 100 tahun.
– Jenis Rel KA peninggalan Belanda tsb ternyata di design dengan tingkat keausan hanya 1 mm untuk masa 50 tahun.

Keuntungan :
1. Baja pasti lebih DAKTAIL jadiii cocok di negara kita yang banyak gempa.
2. Akumulasi konstruksi baja akan menyumbangkan beban Pondasi yang lebih kecil ketimbang konstruksi beton karena stress – weight rasio baja lebih besar dibanding beton.
3. Proses Pelaksanaan lebih mudah dan pasti lebih cepat ( Shop drawing, Nesting plan, cutting , welding , assembling , delivery dan installasi) dan semuanya dilaksanakan simultan dengan pekerjaan lapangan lainnya ( lapangan dan fabrikasi bersamaan)
4. Baja bisa di daur ulang ( Ramah lingkungan )
5. BoQ / RAB konstruksi baja sangat simple dan mudah , menggunakan analisa BERAT ( Tonase) . Hampir semua softwere analisa baja akan mengeluarkan informasi berat ( SAP2000, STAAD-PRO, ETAB, TEKLA ( lebih rinci) , PROCON dll)
6. Bila gagal struktur karena Elevated temperatur , Fire, gempa dll mudah untuk di perbaiki ; sekedar info bahwa Paska Gempa KOBE sangat banyak tercetak Doktor baru yang meneliti masalah Baja di jepang. ( Lihat website ASCE)
7. Satu lagi Baja Homogen ( walau ada yang sedikit keropos keropos kalau dilihat dengan X-ray ) . Ingat salah satu kegagalan konstruksi beton adalah Tidak bisa terjaminnya tingkat homogenitas kontruksi yang diaplikasikan di lapangan ( makanya ada test 7 , 14 dan 28 hari)

Perkembangan nilai impor Indonesia sepanjang bulan Maret 2017 dari berbagai negara di dunia sebesar 13,36 miliar Dolar Amerika (USD). Besarnya pasar Indonesia yang amat besar dan stabilitas politik yang memadai dipandang pelaku industri sebagai daya tarik. Berikut ini merupakan Negara-negara pemasok Besi Baja yang diterbitkan Badan Pusat Statistik(BPS):
Jepang
Korea Selatan
Tiongkok(China)
Thailand
Singapura
India
Italia
Amerika Serikat
Perancis
Jerman
Taiwan

Membandingkan Impor Billet Dan Memanfaatkan Scrap Lokal


Produksi dan penjualan pabrikan baja China meningkat, karena baja impor masuk dengan cara membanting harga jual (dumping). Praktik semacam ini lazim dilakukan industri baja Tiongkok yang mengalami kelebihan kapasitas produksi kronis dalam beberapa tahun terakhir. Sekarang harga tidak lagi berbasis pada cost, tetapi kepada supply demand. Saat oversuplly (di China), misalnya harga produksi US$100 per ton dan variabel lainnya US$60 per ton, mereka bisa jual US$65. Berarti harganya dibanting,”

Sekretaris Jendral South East Asia Iron and Steel Institute (SEAISI) mengatakan ada pergerakan cukup kuat pada permintaan baja di Asean. Pertumbuhan diakibatkan oleh permintaan yang besar dari Vietnam dan Filipina dan perbaikan permintaan di Indonesia dan Thailand, serta di Malaysia.

South East Asia Iron and Steel Institute (Seaisi) melaporkan suplai domestik scrap baja atau besi tua yang biasanya digunakan sebagai bahan baku untuk menghasilkan billet naik signifikan hingga dua kali lipat menjadi 4 juta ton. Pelaku industri baja lebih memilih mengimpor billet dibandingkan memanfaatkan scrap domestik dengan alasan harga yang lebih murah sebagai bahan baku.

Di Indonesia besi tua termasuk limbah non-B3 harus bersih dan kering. Itu tentu menyulitkan kami sebagai pelaku yang melaksanakan kegiatan seperti ini. Belum lagi harga gas yang masih tinggi sehingga dapur peleburan banyak yang terancam tutup.

Total produksi baja kasar (slab dan billet) mencapai 5,4 juta ton pada tahun sebelumnya. Total konsumsi baja kasar nasional pada tahun 2016 sebanyak 9,2 juta ton dimana kekurangan dipenuhi dari impor sebesar 3,8 juta ton.

Tiga negara utama pemasok baja impor ke Indonesia adalah China, Singapura dan Jepang. Asosiasi Industri Besi dan Baja Indonesia menuturkan kebutuhan impor besi tua atau bekas (scrap) untuk memenuhi pasokan bahan baku industri baja nasional per tahun mencapai 5 juta ton. Kenaikan pada harga gas yang menyebabkan kenaikan biaya produksi membuat importir harus memenuhi kebutuhan pasokan bahan baku dengan mengimpor billet.

Ketentuan Impor Besi Baja


dx51d_q235_q195_cold_rolled_hot_dipped_galvanized_steel_in_coils_for_corrugated_sheets

Melonjaknya kebutuhan besi baja nasional belum juga dapat dipenuhi pasokan dalam negeri. Porsi impor yang mencapai 60% dari total konsumsi nasional, yang jumlahnya 12-13 juta ton per tahun, membuka kran industri besi baja China membanjiri tanah air. Pasalnya, produk besi baja dari Negeri Panda menawarkan harga yang jauh dibawah normal sehingga turut menekan produsen lokal. Harga jual dipengaruhi oleh harga bahan mentah, bijih besi, scrap, serta ongkos produksi. Harga produk yang ditawarkan Negara itu bisa lebih murah hampir 25% dari yang diproduksi di Indonesia.

Tekanan paling berat mulai dirasakan sejak awal tahun 2014 dimana komoditas minyak dunia mengalami penurunan secara signifikan. Laju penurunannya berbanding lurus dengan besi baja yang mencapai 50%. Kebutuhan baja dalam negeri rata-rata setiap tahun sebesar 13 juta ton, sementara produksinya baru mencapai 6 juta ton. Berarti masih terdapat sekitar 7 juta ton yang diimpor. Saat ini produksi baja China mencapai 450 juta ton per tahun. Kalau saja 10 ton dialihkan ke Indonesia, pasti industri baja dalam negeri akan kelimpungan, seperti yang diperkirakan Ketua II Asosiasi Produsen Besi Baja Seluruh Indonesia(IISIA), Ismail Mandry.

Guna mencegah bangkrutnya industri baja dalam negeri, Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Tekstil, dan Aneka Departemen Perindustrian(Depperin) bertindak cepat membahas pemberlakuan tata niaga impor, safeguard, dan antidumping. Dukungan pemerintah berupa program SNI, penataan bea impor, kebijakan TKDN, pemberian tax allowance, serta peningkatan penyerapan produk besi baja terutama untuk proyek-proyek pemerintah yang menggunakan APBN diharapkan dapat menggerakkan industri baja nasional terus bertumbuh. Industri besi baja merupakan industri prioritas yang dapat menopang industri lain.

Menyusul lonjakan volume impor produk tersebut pemerintah menerapkan kenaikan bea masuk(BM) terhadap importasi baja yang tertuang dalam PMK(Peraturan Menteri Keuangan). Alternatif lain juga ditempuh Kemenperin yang akan merivisi PP Nomor 10 Tahun 2012 dimana ketentuan antidumping itu tidak berlaku di kawasan FTZ(Free Trade Zone). Terkait pertimbangan tersebut Menteri Perdagangan Republik Indonesia merangkai ketentuan guna mendorong peningkatan daya saing nasional dengan penyederhanaan perizinan serta pembatasan impor besi baja dan produk turunannya yang diatur dalam PerMenDag Nomor 82/M-DAG//PER/12/2016.

Kartu Kendali Realisasi Impor Besi-Baja


9ce22e92ea984939e443838c3afb7de0-1

Perusahaan yang telah mendapat Persetujuan Impor(SPI) wajib menyampaikan laporan atas pelaksanaan Impor Besi Baja dan Produk Turunannya, baik terealisasi maupun tidak terealisasi dengan melampirkan:
Scan Kartu Kendali Realisasi Impor yang telah diparaf oleh petugas Bea dan Cukai, untuk jenis Besi Baja dan Produk Turunannya yang belum terkena ketentuan pencatatan realisasi Impor secara elektronik dan/atau pelabuhan yang belum terkoneksi dengan INSW.
Scan PIB, untuk jenis Besi Baja dan Produk Turunannya yang telah terkena ketentuan pencatatan realisasi impor secara elektronik dan/atau pelabuhan yang sudah terkoneksi INSW.

Laporan disampaikan 3 bulan sekali paling lambat tanggal 15 bulan pertama triwulan berikutnya, kepada Direktur Jenderal dengan tembusan kepada Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronika, Kementrian Perindustrian. Perusahaan yang telah mendapat SPI dan tidak melaksanakan kewajiban penyampaian laporan sebanyak 2 kali dikenai sanksi penangguhan permohonan Persetujuan Impor periode berikutnya.

Surveyor Importasi Besi Baja


Maersk Line at the Port of Los Angeles

Setiap pelaksanaan impor besi baja dan produk turunannya harus terlebih dahulu dilakukan Verifikasi atau penelusuran teknis di pelabuhan muat. Pelaksanaan Verifikasi atau penelusuran teknis sebagaimana dimaksud dilakukan oleh Surveyor yang ditetapkan oleh Menteri. Untuk dapat ditetapkan sebagai pelaksana Verifikasi atau penelusuran teknis impor Besi Baja dan Produk Turunannya, Surveyor harus memenuhi persyaratan sbb:

Memiliki Surat Ijin Usaha Jasa Survey(SIUJS)
Berpengalaman sebagai surveyor paling sedikit 5 tahun
Memiliki cabang atau perwakilan dan/atau afiliasi di luar negeri dan memiliki jaringan untuk mendukung efektifitas pelayanan verifikasi atau penelusuran teknis
Mempunyai track record(rekam jejak) yang baik di bidang pengelolaan kegiatan verifikasi atau penelusuran teknis impor.

Hasil verifikasi atau penulusuran teknis dituangkan dalam bentuk Laporan Surveyor (LS) untuk digunakan sebagai dokumen pelengkap pabean dalam penyelesaian kepabeanan dibidang impor. LS harus memuat pernyataan kebenaran atas hasil verifikasi atau penelusuran teknis dan menjadi tanggungjawab penuh Surveyor. Surveyor wajib menyampaikan laporan tertulis mengenai pelaksanaan verifikasi atau penelusuran teknis impor besi baja dan produk turunannya kepada Direktur Jenderal setiap bulan paling lambat tanggal 15 bulan berikutnya.

Ketentuan verifikasi atau penelusuran teknis tidak berlaku terhadap impor besi baja dan produk turunannya yang termasuk dalam Pos Tariff/HS
7213.91.90 dengan kandungan karbon (C) lebih dari 0,6%
7213.99.90 dengan kandungan karbon (C) lebih dari 0,6%
7213.32.00
7219.33.00
7219.34.00
7219.35.00
7219.90.00
7220.20.90
7220.20.10
7220.90.10
7220.90.90
7225.11.00
7225.19.00
7225.50.90 berupa Tin Mill Black Plate
7226.11.90
7226.11.10
7226.19.10
7226.19.90